Skip to main content

Welcome Back Old Name With New Person

Alhamdulillah saya menyentuh blog ini lagi.
Lebih dari 7 tahun sudah terakhir saya update blog ini.
Duh, sepertinya sudah menurun skill menulisnya. hehe

Oya, baru saja saya selesai membaca beberapa postingan-postingan yang lama. Sedikit sedih dan banyak tertawa, menertawakan curcol-curcol-an anak bau kencur. Haha.
Alhamdulillah banget, dengan kegelisahan dan jerih payah menyelesaikan kuliah yang telah lalu, kini saya bekerja sebagai programmer. Cita-cita dari dulu.

Selama 7 tahun terakhir, berjuta-juta kisah rapat menghampiri. Penuh syukur, sedih, kesal, dan rindu, serta sesal. Hingga sangat lebih mengenal hidup lagi setelah masuk dunia kerja, ditinggal orang kesayangan, serta peliknya dengan sifat dan cara berpikir orang-orang di sekitar.

By the way, usia saya sebentar lagi masuk kepala 3 loh!
Excited dan sedikit banyak pikiran, dan kekhawatiran. Tapi sebagai muslim, tidak boleh mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti. Jalani dengan bismillah. Hehe
Ada achives yang ingin saya penuhi sebelum sampai kepala 3. Seperti, bertubuh ideal dan sehat, lancar bercakap bahasa inggris, dan hidup sehat dan disiplin. Namun sayang, keinginan hanya sekedar ingin. Lol!
Yang ga berubah dari dulu itu, cuma rasa "malas". XD

Oh ya, rencananya blog "I Give You The Story" ini, untuk curcol-an saya lagi kedepannya.
Dan blog "May I Give You?" itu, untuk konten yang sedikit "berisi". 😁

Okay, segitu dulu deh ya. 😊

Comments

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Dewasa Vs Kaulah Satu-Satunya

Aku rada ga 'sreg' nih sama nasehat yang satu ini Orang yang baik pasti banyak teman. Orang jahat tidak punya teman. Tapi toh nyatanya banyak tuh yang baik tapi karena dia ga gahul jadi ga punya temen. Banyak juga tuh yang jahat tapi pinter bergahul jadi punya banyak temen. Jadi ga adil dong kalau-kalau pandangan orang banyak seperti  Dia ga punya temen ah ,pasti ga asik. Ih dia banyak temennya pasti baik deh. Kalau kayak gitu semakin banyak aja dong temennya orang yang jahat. Ternyata makin tua makin banyak pernyataan yang harus dipertanyakan. Harusnya kata-kata yang ditanam dalam jiwa anak-anak ga boleh sembarangan ya. Masa iya harus menunggu mereka dewasa baru mereka sadar pernyataan-pernyataan mana saja yang masuk akal. Aha.. Tapi emang ada benernya juga sih pernyataan yang tadi ,cuma 'tidak tepat'. Padahal dulu sering banget disuruh jawab pertanyaan dengan 'benar' dan 'tepat'. Hehe.. Loh ada bunyi sirine polisi... . . . . . . . . Lama...

Sehat? Mau dong

Desember-Januari Setahun yang lalu. Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh. Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh. Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku. "Ami!" "Ami! Kenapa!" Sekuatnya aku buka pintu. "Dingi...