27 April 2015, 11:42 WIB.
Malam ini, sempat terpikirkan 'sepertinya saya salah ambil jurusan'.
Dari masih kecil tidak pernah berniat masuk ke ilmu sosial, hukum, politik, kewarganegaraan, maupun sejarah. Karena memang dari kecil, kecakapan saya ada di ilmu pasti. Dan saya selalu berniat ke ilmu tersebut. Sehingga saya masuk IPA selama SMA, dan Teknik Informatika selama kuliah.
Niat tersebut sepertinya sekarang berubah. Dengan banyak peristiwa yang dialami dan didengar selama 22 tahun ini. Alangkah lebih baiknya saya mengerti hukum, politik dan kewarganegaraan. Dengan begitu tugas saya di pendidikan tersebut dapat membantu banyak orang. Orang yang tidak pernah melihat gadget pun dapat terbantu. Orang yang tidak pandai mengoperasikan gadget pun dapat terbantu.
Tidak seperti sekarang ini. Tugas-tugas saya hanya dapat membantu beberapa organisasi saja. Tentunya dengan kategori sudah pandai mengoperasikan gadget. Apalagi tugas yang terakhir ini, membantu orang saja harus ada ketentuan seperti: sudah punya sistem yang standar, sudah punya infrastuktur yang memadai, sudah punya pengalaman yang lama atau punya banyak data. Yah memang sudah bagiannya yang berbeda-beda, namanya juga jurusan. Maka dari itu, saya pikir saya salah pilih.
Awal kuliah saya sangat bersemangat, bermimpi dapat membuat karya yang membantu banyak orang tanpa pandang bulu. Namun saat ada pertanyaan,
'Apa masyarakat sekitar bisa mengoperasikannya? Apakah efisien mengadakan pelatihan masal hanya untuk mengoperasikan karya tersebut? Apa tidak ada pengguna yang sekiranya sudah bisa mengoperasikannya?'
perlahan saya sulit untuk melihat mimpi itu lagi. Ditambah banyak masalah negara dan masyarakatnya yang membuat saya gemas. Sampai detik ini, saya bingung akan melakukan apa pada tugas yang terakhir ini.
Saya ingat nasihat-nasihat sang dosen, jangan sampai di semester akhir ini baru sadar kalau salah mengambil jurusan. Tapi, saya beda. Saya yakin saya beda. Penyebab kesadaran saya itu beda dengan yang lain. Hambatan pikiran saya beda dengan yang lain.
Tapi,
secara 'ilmu pasti' memang sama, tidak beda.
Jadi, kalau ini adalah keputusan yang salah, pilihan yang salah. Maka saya akan bertanggung jawab. Yaitu, dengan menyelesaikan tugas akhir ini.
Semoga saya telah mengambil semua hikmah dari kesalahan ini.
Tetap berjuang!
화이팅!
Malam ini, sempat terpikirkan 'sepertinya saya salah ambil jurusan'.
Dari masih kecil tidak pernah berniat masuk ke ilmu sosial, hukum, politik, kewarganegaraan, maupun sejarah. Karena memang dari kecil, kecakapan saya ada di ilmu pasti. Dan saya selalu berniat ke ilmu tersebut. Sehingga saya masuk IPA selama SMA, dan Teknik Informatika selama kuliah.
Niat tersebut sepertinya sekarang berubah. Dengan banyak peristiwa yang dialami dan didengar selama 22 tahun ini. Alangkah lebih baiknya saya mengerti hukum, politik dan kewarganegaraan. Dengan begitu tugas saya di pendidikan tersebut dapat membantu banyak orang. Orang yang tidak pernah melihat gadget pun dapat terbantu. Orang yang tidak pandai mengoperasikan gadget pun dapat terbantu.
Tidak seperti sekarang ini. Tugas-tugas saya hanya dapat membantu beberapa organisasi saja. Tentunya dengan kategori sudah pandai mengoperasikan gadget. Apalagi tugas yang terakhir ini, membantu orang saja harus ada ketentuan seperti: sudah punya sistem yang standar, sudah punya infrastuktur yang memadai, sudah punya pengalaman yang lama atau punya banyak data. Yah memang sudah bagiannya yang berbeda-beda, namanya juga jurusan. Maka dari itu, saya pikir saya salah pilih.
Awal kuliah saya sangat bersemangat, bermimpi dapat membuat karya yang membantu banyak orang tanpa pandang bulu. Namun saat ada pertanyaan,
'Apa masyarakat sekitar bisa mengoperasikannya? Apakah efisien mengadakan pelatihan masal hanya untuk mengoperasikan karya tersebut? Apa tidak ada pengguna yang sekiranya sudah bisa mengoperasikannya?'
perlahan saya sulit untuk melihat mimpi itu lagi. Ditambah banyak masalah negara dan masyarakatnya yang membuat saya gemas. Sampai detik ini, saya bingung akan melakukan apa pada tugas yang terakhir ini.
Saya ingat nasihat-nasihat sang dosen, jangan sampai di semester akhir ini baru sadar kalau salah mengambil jurusan. Tapi, saya beda. Saya yakin saya beda. Penyebab kesadaran saya itu beda dengan yang lain. Hambatan pikiran saya beda dengan yang lain.
Tapi,
secara 'ilmu pasti' memang sama, tidak beda.
Jadi, kalau ini adalah keputusan yang salah, pilihan yang salah. Maka saya akan bertanggung jawab. Yaitu, dengan menyelesaikan tugas akhir ini.
Semoga saya telah mengambil semua hikmah dari kesalahan ini.
Tetap berjuang!
화이팅!
Comments
Post a Comment
Tinggalkan sapamu di sini ^^