Skip to main content

Penghambat Skripsi

Aneh. Sekalinya ada kemajuan, walaupun sedikit, tetap saja ada yang mengeluh.
"Bukannya dari kemaren!"
"Telat Pak!"
"Percuma!"
Tutur kata macam apa yang seperti itu?
Ini negara hukum, bukan kerajaan yang bisa memutuskan seenaknya sebagai Raja.

Adanya pencuri-pencuri ayam/coklat/kayu/dll yang dipenjara, membuat kalian kasian?
Silahkan kumpulkan uang untuk menebus jaminan pelaku agar tidak dipenjara, ikuti aturan untuk membantu. Dan ingat, jangan hanya memikirkan kalau 'Pejabat' lah yang harus membantu karena 'dikenal' kekayaannya. Lihat juga yang lain!
Selebriti!
Pengusaha!
Mereka juga 'dikenal' kekayaannya, bukan?
Seleb luar negeri yang biasa kalian olok-olok, nyatanya mereka yang membantu mengurangi sedikit kemiskinan di tanah air. Kalian ga malu? Bisanya hanya bagi-bagi 'ludah' tanpa solusi.

Adanya ketidakadilan dari penegak hukum, membuat kalian kesal?
Makanya mikir!
Bagaimana menyampaikan aspirasi kepada presiden dan menteri tanpa menimbulkan 'kerugian negara' (misal: fasilitas umum rusak) dan 'pelanggaran hukum' (misal: pencemaran nama baik)? Susah?
Kalau begitu pikirkan bagaimana menyampaikan aspirasi kepada DPR/DPRD/Gubernur/Bupati/Walikota/Partai/Lembaga tanpa menimbulkan 'kerugian negara' (misal: fasilitas umum rusak) dan 'pelanggaran hukum' (misal: pencemaran nama baik)? Susah?
Kalau begitu pikirkan bagaimana menyampaikan aspirasi kepada Camat/Lurah/KaDes/RT/RW/Keluarga tanpa menimbulkan 'kerugian negara' (misal: fasilitas umum rusak) dan 'pelanggaran hukum' (misal: pencemaran nama baik)? Susah juga?
Yasudah, sampaikan melalui media telekomunikasi.
Semua organ pemerintahan punya keluarga kan? Keluarganya punya tetangga-tetangga kan? Dan mereka itu pasti ke luar rumah kan? Banyak yang punya media telekomunikasi kan? Pasti bakal sampai kok aspirasi kalian.
Daripada medianya dipakai 'kegiatan miris' (menghujat saja/menampilkan acara yang tidak bernilai/menyebarkan isu palsu/membuat berita untuk kepentingan rating saja), lebih baik dipenuhi dengan aspirasi-aspirasi kalian. Silahkan sebar aspirasi kalian seperti halnya menyebar isu-isu. Kalian ahlinya, bukan?
Tetap melakukan 'kegiatan miris'? Oh, berarti aku menilai bahwa kalian itu tidak mempunyai aspirasi.

Oh ada lagi nih yang miris.
Hanya karena berbeda pandangan lalu membenci, menghujat, bahkan mengusir saudara tanah air sendiri? Kayak isu 'warga Bali mau keluar dari Indonesia / warga selain Bali mengusir Bali dari indonesia', hanya karena masalah Pentas Miss Dunia?
Huancur sudah kalau begitu!
Perang-perang kecil, tapi banyak, apa bedanya sama perang besar?

Comments

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Sehat? Mau dong

Desember-Januari Setahun yang lalu. Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh. Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh. Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku. "Ami!" "Ami! Kenapa!" Sekuatnya aku buka pintu. "Dingi...

Musibah

aahh. menyebalkan.... telapak kaki aku jadi gini... huhu... sabar..sabar..