Skip to main content

Proposal Ditolak?

Proposal ditolak?
Ditolak proposal skripsi jauh lebih sakit dibanding gagal masuk PTN. Tapi diejek dosen itu lebih sakit daripada ditolak proposal skripsi.
Hari ini dan Senin mendatang ada banding buat yang ditolak proposalnya, yang nanti kemungkinan bisa untuk diterima. Tapi saya tadi ga ada niat buat banding ,cuma mau menanyakan suatu hal supaya saya bisa lebih siap untuk banding nanti senin. Banding itu harus ke reviewer yang meriksa proposalnya. Makanya tadi saya bukan nanya ke reviewer tapi ke satu dosen yang ada hubungannya dengan pembahasan proposal saya. Niatnya juga cuma mau bertanya.
Tapi apa daya, dengan kata pengantar saya yang kurang jelas terus disusul bentakan dari dosen tersebut, membuat saya gugup. Saya juga ga bisa menjelaskan dengan baik apalagi sang dosen terus-terusan ngomong. Alhasil saya dilempar ke dosen yang mereviewer, karena saya disangka mau banding.
Yasudah ,ketika dijelaskan kesalahan fatal proposalnya dimana. Sudah jelas saya ditolak. Oke gapapa. Lalu saya pamit keluar ruangan kepada dosen yang pertama tadi, eh dibalesnya dengan ucapan "yaaa silahkan... blablablablablablabla" mengucapkan "bla" tersebut sampai saya sudah di pintu keluar.
Disitu saya merasa sedih.. #hayangCeurik
Terima kasih pak reviewer yang tidak ikut2an membentak saya.
Mohon maaf pak dosen yang tidak paham maksud saya.

Pertanyaannya ,kapankah saya bisa pandai berbicara?
Inilah akibat dari kekurangan pada diri sendiri. :')

Comments

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Dewasa Vs Kaulah Satu-Satunya

Aku rada ga 'sreg' nih sama nasehat yang satu ini Orang yang baik pasti banyak teman. Orang jahat tidak punya teman. Tapi toh nyatanya banyak tuh yang baik tapi karena dia ga gahul jadi ga punya temen. Banyak juga tuh yang jahat tapi pinter bergahul jadi punya banyak temen. Jadi ga adil dong kalau-kalau pandangan orang banyak seperti  Dia ga punya temen ah ,pasti ga asik. Ih dia banyak temennya pasti baik deh. Kalau kayak gitu semakin banyak aja dong temennya orang yang jahat. Ternyata makin tua makin banyak pernyataan yang harus dipertanyakan. Harusnya kata-kata yang ditanam dalam jiwa anak-anak ga boleh sembarangan ya. Masa iya harus menunggu mereka dewasa baru mereka sadar pernyataan-pernyataan mana saja yang masuk akal. Aha.. Tapi emang ada benernya juga sih pernyataan yang tadi ,cuma 'tidak tepat'. Padahal dulu sering banget disuruh jawab pertanyaan dengan 'benar' dan 'tepat'. Hehe.. Loh ada bunyi sirine polisi... . . . . . . . . Lama...

Sehat? Mau dong

Desember-Januari Setahun yang lalu. Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh. Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh. Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku. "Ami!" "Ami! Kenapa!" Sekuatnya aku buka pintu. "Dingi...