Skip to main content

Miss World In Indonesia

Waw....
Event ini bikin Indonesia lebih terguncang. Pro dan kontra yang saling menjatuhkan, yang ujung-ujungnya terjadi konflik antar agama.
Saya memeluk agama Islam, dan saya bangga.

Tadi saya baru baca thread di Kask@s yang ber-title "Kami Siap Lepas Dari Indonesia".
Maksud "Kami" disini adalah TS dan masyarakat di Bali. Maksudnya ya mau melepas pulau Bali dari Negara bagian Indonesia kalau Miss World tidak diijinkan tampil. Isi dari postingannya kurang lebih menyayangkan tindakan salah satu ORMAS Islam yang menolak Miss World di Indonesia. Dan menilai ORMAS tersebut seharusnya juga mengurus saudara-saudara kita di Indonesia bagian Timur, yang mana adanya suku yang masih telanjang atau hanya menggunakan koteka saja.

Hemm.. Sebenarnya kalau itu benar-benar keputusan mereka, ya silahkan saja keluar. Aku ga ngurus kok. Cuma gara-gara salah satu ORMAS Islam saja sampai segitunya, ya kebangetan toh. Emang Negara Indonesia isinya ORMAS seperti itu saja? Ga ada nilainya sama sekali. Kalau Anda yang ga suka ORMAS tersebut, ya Anda saja toh yang pindah ke luar negeri, kok bawa-bawa pulaunya. Mau minggat kok sama rumahnya? Parahnya lagi, nyatanya TS tersebut tidak mewakili semua suara rakyat di Bali, tapi sudah berani mengatasnamakan. Laahh ,belum berani minggat sendiri mah jangan sok-sokan.

Tapi memang ga bener tuh ORMAS, yang juga mengatasnamakan Islam dalam segala tindakannya. Islam tuh lembut perkataan dan perbuatan, Islam tuh cerdas pemikiran, Islam tuh tegas hukumnya, Islam tuh sempurna kebenarannya. Janganlah dulu lihat ke Irian yang tidak berpakaian (padahal belum terjangkau agama), lihatlah dulu wanita muslim yang muncul di televisi atau desa kalian. Banyak yang masih minim pakaiannya padahal sudah terjangkau agama. Memang banyak yang harus dibenahi. Benahi perilaku kalian sesuai Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasul, dan ajari sedikit demi sedikit isteri/suami, anak, kerabat, tetangga, serta saudara jauh kalian. Berdakwah sedikit demi sedikit. Berdakwah sesuai Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasul. Niscahya Allah jauhkan dari yang batil.

Umat Muslim memang tidak diperbolehkan melihat (dengan segaja) aurat-aurat yang bukan mahramnya. Dalam hal ini secara pribadi, saya menolak MW di Indonesia, apalagi ditayang di televisi. Namun, kalau ya diijinkan juga tidak masalah. Kita umat Muslim ya seharusnya tidak melihat acara tersebut.
Yang membuat saya marah adalah perkataan 'yang katanya' mewakili wanita berbicara
"Ga adil dong, kenapa harus wanita yang tidak boleh berpakaian minim. Kan kami para wanita cuma ingin menarik perhatian pria."
"Kami berpakaian minim seperti itu bukan berarti kami tidak tau agama."
Oalah?
Wong niatnya aja ga baek, kalau diperkaos ya jangan protes yo mbak, kepinginnya gitu kan?
Sorry mbak, kalau di agama Islam tuh wajib hukumnya menutup aurat. Kalau mbak agamanya Islam berarti bener kan mbak ga tahu agama, yang diwajibkan saja ga tahu. :p


Gara-gara Thread "Kami Siap Lepas Dari Indonesia" tadi jadi muncul perang secara tidak langsung. Antar umat Islam dengan umat lain. Antar umat Islam yang pro dan kontra. Saling membunuh karakter satu sama lain. Tragis memang.
Sebenarnya kita berada di zaman penuh fitnah. Dimana benarlah "Fitnah Lebih Kejam Dari Pembunuhan". Musuh terbesar kita tetaplah hasutan syaitan. Berjuta-juta tipu daya muslihat yang ditanam. Sungguh jahat kalian Jin Kafir.

Entah apa yang harus saya perbuat untuk negara yang dalam kehancuran, dan untuk agamaku yang sedang terdzalimi. Bagaimana nasib anak cucuku nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Dewasa Vs Kaulah Satu-Satunya

Aku rada ga 'sreg' nih sama nasehat yang satu ini Orang yang baik pasti banyak teman. Orang jahat tidak punya teman. Tapi toh nyatanya banyak tuh yang baik tapi karena dia ga gahul jadi ga punya temen. Banyak juga tuh yang jahat tapi pinter bergahul jadi punya banyak temen. Jadi ga adil dong kalau-kalau pandangan orang banyak seperti  Dia ga punya temen ah ,pasti ga asik. Ih dia banyak temennya pasti baik deh. Kalau kayak gitu semakin banyak aja dong temennya orang yang jahat. Ternyata makin tua makin banyak pernyataan yang harus dipertanyakan. Harusnya kata-kata yang ditanam dalam jiwa anak-anak ga boleh sembarangan ya. Masa iya harus menunggu mereka dewasa baru mereka sadar pernyataan-pernyataan mana saja yang masuk akal. Aha.. Tapi emang ada benernya juga sih pernyataan yang tadi ,cuma 'tidak tepat'. Padahal dulu sering banget disuruh jawab pertanyaan dengan 'benar' dan 'tepat'. Hehe.. Loh ada bunyi sirine polisi... . . . . . . . . Lama...

Sehat? Mau dong

Desember-Januari Setahun yang lalu. Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh. Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh. Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku. "Ami!" "Ami! Kenapa!" Sekuatnya aku buka pintu. "Dingi...