Skip to main content

Sehat? Mau dong

Desember-Januari
Setahun yang lalu.
Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh.
Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh.
Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku.
"Ami!"
"Ami! Kenapa!"
Sekuatnya aku buka pintu. "Dingin" jawabku. Aku nangis sambil menggigil. Ria bikin teh hangat untukku. Satu per satu penghuni kosan datang, menjengukku. Teh Dian memberi mie rebus dan nasinya. Saran demi saran datang.
"Ke dokter atuh mi!"
"cepet dimakan!"
"kasih tau orangtuanya mi!"
"nggak, cuma gini. nunggu sembuh aja." pikirku dalam hati.
Hari ke hari badan semakin lemas. Tidak kuat lagi untuk pergi kuliah. Akhirnya aku ke dokter dengan teman. Di situ kata dokter "Gapapa kok. Kayaknya cuma maag."
Setelah obatnya habis. Tidak ada tanda-tanda membaik.
Ada saran untuk ke dokter yang berbeda.

Kali ini aku sendiri pergi ke dokter yang dimaksud.
Pandangan bener-bener jadi rabun. Disekelilingku seperti sedang berkabut. Dengan tubuh yang sangat lemas terutama di bagian kaki, pikiran yang masih teringat jelas adalah tujuan aku ke tempat pengobatan. Sakit sekali. Bukan penyakitnya yang menyakitkan, tapi sakit ketika aku sulit untuk berdiri, berjalan, melihat, mendengar, berbicara, yang dulu sering aku lakukan.
Alhamdulillah aku sudah mulai mengantri untuk pemeriksaan. Saat itu ada seorang penjaga apotik yang berbicara padaku "Neng pucet amat, kayak mayat idup aja."
Aku yang hanya bisa tersenyum paksa bahkan tidak sempat untuk bercermin, segitu pucatkah aku?
Setelah dipanggil dokternya, lalu aku diperiksa, lalu aku ditanya ini itu, banyak sekali, "dokter cukup, aku ga kuat untuk berbicara" keluhku dalam hati. Dengann sedikit memotong pembicaraan, aku bertanya "dok, aku mau minta surat izin tidak masuk kuliah"
dokter itu membalas "Memangnya kamu ga kuat banget buat masuk kuliah? Janganlah, masa kamu bolos terus."

Rasanya aku mau pingsan aja deh. Kok dokter gini-gini amat. Orang sakit kok dibilang bolos. Kalau ada yang mau angkat aku sampai ke kampus sih mungkin aku ga usah ribet-ribet bikin surat izin.
Sudah membawa kesal (walaupun surat izinnya dikasih), saat mengambil obat, penjaga apoteknya berbicara lagi "Sakit apa sih neng, serem saya mah ngeliat eneng juga. kayak mayat, beneran."
Aku cuma bisa menghela napas sambil kembali berjuang untuk pulang ke kosan.
Masuk kosan langsung menitipkan surat ijin tadi kepada teman. Masuk kamar langsung tiduran sejenak. Lalu aku coba makan biskuit, dan air bening, kemudian obatnya. Dan tiduran lagi sambil berdoa 'saat aku bangun dari tidur ini, sakit ini telah hilang'. Namun Allah belum meluluskan ujian ini. Aku bangun sambil menggigil. Dan hari pun belum berubah, ini masih sore di hari yang sama. Tak bisa berkutik dari kedinginan. Aku berharap cepat tidur nyenyak dan berganti hari. Malam hari nya aku demam, kepanasan, sulit tidur. Entah bagaimana aku tertidur, saat terbangun kasurku sudah basah kuyup karena keringatku. Mau mandi tapi aku sudah tidak kuat berdiri, kaki ini semakin lemah. Cacing-cacing di perut sudah protes. Mau nitip makan ke teman, rasanya tidak enak. Aku benar-benar tidak mau merepotkan orang lain saat itu. Tapi aku menangis saat benar-benar tidak bisa apa-apa dan membutuhkan pertolongan.

Beberapa hari setelah obatnya habis, tidak ada perubahan. "Kalau seperti ini terus, aku bisa mati overdosis." pikirku. Aku kembali ke dokter, kali ini ditemani Ria. Dokternya berbeda dari yang waktu itu. Pria yang sudah agak tua. Saat diperiksa, kata dokter mataku kuning. Kata Ria pun begitu. 'Liver' katanya. "ah, nggak" hatiku mencoba meyakinkan. Atas saran dokter dan temanku itu, akhirnya aku mencoba untuk test darah. Keesokan harinya aku, Ria ,serta Bu Nenden (anak ibu kosan) ke Lab untuk test darah. Di sana aku di test urin, dan darah. Aku takut saat warna urinku seperti teh, oren kecoklatan. Test darah ini membuatku lebih miskin, harus membayar 400ribu. aaa, mau teriak rasanya.

Hasilnya beberapa hari kemudian keluar. Entah apa isinya, istilah-istilah kedokteran semua. Dengan terpaksa karena aku sakit yang tidak pernah aku ketahui, dan juga telah merogoh dalam dompet, maka aku memberi tahu orangtuaku. Dua hari lagi mereka datang. Besok kakakku yang datang lebih dulu.  Esok hari kakakku datang saat aku sedang demam, dia langsung mengompres adiknya. Dengan sedikit omelan karena ada botol-botol bekas softdrink. Lalu dia mengoprek laptopku, dan disetelnya lagu "Sarang Surowo-Kim Jong Kook". Dengan sedikit cerita, aku merasa lega ada yang mengurusku. Setidaknya tidak merepotkan orang lain (bukan keluarga, hehe) lagi. Singkat cerita, orangtuaku datang dengan banyak omelan. Lalu besoknya aku digiring ke dokter biasa,untuk memberi hasil test darah kemarin, tapi malah tutup. Aku yang saat itu sudah ditanduk, pandanganku dalam beberapa detik hanya putih kosong. "Mama" panikku. Mama yang khawatir, menuntunku. Papa yang panik, ada jauh di depan sana. Papaku yang seakan tidak peduli, banyak menanyakan pertanyaan kepadaku. "Dimana ada dokter lagi, sebelah mana, mau makan siang apa". "papa udah. aku gabisa mikir. aku mau pulang" teriakku dalam hati. Aku tahu papaku yang galak mencoba meyakinkan dirinya kalau anaknya tidak kenapa-kenapa. Sedangkan aku tahu apa yang badanku rasakan. Malamnya orangtuaku memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit terdekat.

Esok harinya di rumah sakit,aku diperiksa di UGD. Bekas suntikan (di atas siku kanan) yang di Lab waktu itu membiru. Akhirnya diambil darah di dekat pergelangan tangan kanan. Menunggu hasil hampir 3jam. Dengan hasil yang belum pasti, dokter menawarkan agar aku dirawat inap. Setelah bermalam di rumah sakit, tanganku mulai diinfus di tangan kiri. Sakit! Hiks.
Aku yang baru pertama kali diinfus merasa takut untuk menggerakan tangan kiriku. Secara bertahap masih diperiksa ini itu. Urinku diperiksa, masih sama warnanya. Lalu keluar hasil cek pertama bahwa aku memang sedang terkena liver. Lalu sambil menunggu hasil berikutnya, aku disuruh untuk banyak minum air bening. Dan dengan makanan dari rumah sakit yang tidak berminyak. Dua hari kemudian saat test urin, ternyata sudah kembali kuning. Hilang sudah penyakit liverku. Esoknya ada hasil lain yang menyatakan bahwa aku terkena typus. Semenjak itu, aku dilarang untuk turun dari tempat tidur. Buang air kecil maupun besar di pispot. Mandi dimandiin. Ganti baju digantiin. Maaf ya suster XD
Beberapa hari kemudian, suster terkejut melihat tangan kiriku yang membengkak. Ternyata akibat dari tidak digerakkan. Dengan sangat mengejutkanku, infusnya akan dipindah ke kaki. Aaa... Tapi alhamdulillah tidak sesakit saat memasang infus di tangan. XD
Tangan kananku habis sudah oleh bekas jarum suntik. Hampir tiap hari diambil darahnya.
"Eh, banyak amat bekasnya. Duh suster ga tega nih. Tapi ini terakhir. Tahan ya, dek."
"........."
"Duh salah. Ahh maaf dek, sekali lagi ya."
"........."
"Udah. Maaf ya dek. Sampe tegang gitu si adek. Hehe"
T______T

Akhirnya hari dimana sudah diijinin sama dokter kalau boleh pulang datang juga. Setelah seminggu di rumah sakit. Dan mengeluarkan uang kira-kira tujuh jutaan. Mian ne mama, papa :'(
Oya, masih ada yang bikin dokternya bingung. Yaitu keadaan aku yang zat besi nya sangat rendah, padahal kata dokter orang gendut itu banyak zat besi nya. Dan juga kekurangan sel darah merah. Itulah kenapa aku suka pening.
Setelah keluar dari rumah sakit, selama sebulan aku tidak boleh makan yang berminyak, pedas, nasi, harus bubur. Pokoknya yang lembut-lembut.
Semenjak itu, aku sudah jarang yang namanya minum minuman bersoda. Jarang banget. Malah udah ga ada napsu sama sekali buat meminumnya. Aku juga udah nggak begadang-begadang lagi. Kecuali kemarin XD
Kalau diitung-itung, aku ga kuliah tiga minggu. Dohh, untung masih sempat ikut UAS. -,-
Hemm, ususku yang baik hati, jangan sakit lagi ya. Kalau kamu sakit, semuanya jadi ikut-ikutan sakit :(

Thanks to:
Allah SWT, mama, papa, kakak, Ria, Vani, Teh Dian, Bu Nenden, suster-suster, dokter, teman-teman yang lain.

Jaga kesehatan ya ^^

Comments

  1. oh abis sakit yak?

    met ultah yak :D

    semoga nggak sakit lagi
    :D
    atiati kalo ngekost, jangan telat maemnya.
    hemat boleh, tapi jangan ngepaksain :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Tinggalkan sapamu di sini ^^

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Dewasa Vs Kaulah Satu-Satunya

Aku rada ga 'sreg' nih sama nasehat yang satu ini Orang yang baik pasti banyak teman. Orang jahat tidak punya teman. Tapi toh nyatanya banyak tuh yang baik tapi karena dia ga gahul jadi ga punya temen. Banyak juga tuh yang jahat tapi pinter bergahul jadi punya banyak temen. Jadi ga adil dong kalau-kalau pandangan orang banyak seperti  Dia ga punya temen ah ,pasti ga asik. Ih dia banyak temennya pasti baik deh. Kalau kayak gitu semakin banyak aja dong temennya orang yang jahat. Ternyata makin tua makin banyak pernyataan yang harus dipertanyakan. Harusnya kata-kata yang ditanam dalam jiwa anak-anak ga boleh sembarangan ya. Masa iya harus menunggu mereka dewasa baru mereka sadar pernyataan-pernyataan mana saja yang masuk akal. Aha.. Tapi emang ada benernya juga sih pernyataan yang tadi ,cuma 'tidak tepat'. Padahal dulu sering banget disuruh jawab pertanyaan dengan 'benar' dan 'tepat'. Hehe.. Loh ada bunyi sirine polisi... . . . . . . . . Lama...