Skip to main content

Kesedihan

Kutipan membangun.
Sahabatku yang baik hatinya, yang letih dengan kesedihan yang melambankan kehidupan, katakanlah ini sebagai kalimatmu sendiri … Tuhanku Yang Maha Mencintai dan Maha Lembut,
Di pagi yang damai ini, aku ingin berterima kasih kepadaMu, karena kini kumengerti bahwa,
"Aku bukan hanya berhak untuk berbahagia, tapi aku juga berkewajiban untuk berbahagia."

Jika aku hanya mengeluhkan diriku yang tak dibahagiakan, maka aku hanya meratap sebagai korban.
Dan aku bukan korban. Aku penguasa atas keputusanku sendiri. Tak boleh ada orang menyanderaku dalam kesalahanku, apalagi dalam kesalahannya.
Aku bertanggung-jawab bagi kebahagiaanku sendiri.
Jika bukan aku yang tegas membela diriku untuk memajukan kebahagianku sendiri, siapa lagi?
Hari ini aku tak boleh meneruskan kebiasaanku menikmati kesedihan.
Dan aku tak mungkin berhasil membebaskan hatiku dari kesedihan, jika tubuhku tak aktif bergerak.
Kegiatan adalah penghilang kesedihan.
Tidak ada orang yang aktif, sempat meratap dalam kesedihan.
Hanya orang yang diam memanjakan rasa malas dan melunglaikan tubuh, yang akan melapuk dalam gerogotan rasa sedih.
Aku diciptakan tidak sesuai dengan kesedihan. Itu sebabnya aku menderita dalam kesedihanku.
Tapi kesedihanku diciptakan untuk menyegerakan tindakanku, agar aku menjadi lebih kuat menghadapi orang dan keadaan yang dulu menyedihkanku.
Tuhan, mulai hari ini, aku akan mengganti air mata kesedihanku dengan air mata keharuanku atas keindahan kehidupan yang Kau anugerahkan kepadaku.
Tuhanku Yang Maha Memungkinkan,
Tenagailah upayaku untuk mengubah kesedihan yang melemahkanku, menjadi kesedihan yang menyegerakan tindakanku.
Karena, penyesalan terbesarku di masa tuaku, bukanlah karena aku salah dalam tindakanku, tapi karena kurangnya tindakanku.
Dan aku akan menjadi sebagaimana aku menjadikan diriku sendiri, dengan ijinMu.

Aamiin
Sumber: Kembang Anggrek

Comments

Popular posts from this blog

Hidup-Hidupan

Astagfirullah. Astagfirullah. Beginikah zaman fitnah? Zaman fitnah adalah zaman yang mengerikan. Dimana kebaikan seseorang ditutupi oleh kejelekan orang lain jadi terlihat jelek. Kejelekan seseorang ditutupi dengan kejelekannya lagi malah jadi terlihat baik. Kebenaran dinyatakan dalam konteks yang salah akan menjadi sebab perang saudara. Kesalahan dinyatakan dalam konteks yang benar akan terlihat seperti kebohongan. Ya Allah. Tahun ini semakin terasa zaman fitnahnya. Kalau memang benar jika zaman ini selesai maka hari besar akan datang, maka kuatkanlah iman kami, buatlah kami wafat dalam agama-Mu. Wafatkan kami sebelum hari besar itu datang. Sungguh kami tidak mau termasuk orang-orang yang merasakan hari kiamat.

Dewasa Vs Kaulah Satu-Satunya

Aku rada ga 'sreg' nih sama nasehat yang satu ini Orang yang baik pasti banyak teman. Orang jahat tidak punya teman. Tapi toh nyatanya banyak tuh yang baik tapi karena dia ga gahul jadi ga punya temen. Banyak juga tuh yang jahat tapi pinter bergahul jadi punya banyak temen. Jadi ga adil dong kalau-kalau pandangan orang banyak seperti  Dia ga punya temen ah ,pasti ga asik. Ih dia banyak temennya pasti baik deh. Kalau kayak gitu semakin banyak aja dong temennya orang yang jahat. Ternyata makin tua makin banyak pernyataan yang harus dipertanyakan. Harusnya kata-kata yang ditanam dalam jiwa anak-anak ga boleh sembarangan ya. Masa iya harus menunggu mereka dewasa baru mereka sadar pernyataan-pernyataan mana saja yang masuk akal. Aha.. Tapi emang ada benernya juga sih pernyataan yang tadi ,cuma 'tidak tepat'. Padahal dulu sering banget disuruh jawab pertanyaan dengan 'benar' dan 'tepat'. Hehe.. Loh ada bunyi sirine polisi... . . . . . . . . Lama...

Sehat? Mau dong

Desember-Januari Setahun yang lalu. Minggu-minggu sebelum UAS. Kepalaku berat sekali. Entah kenapa bawaannya malah ingin keramas. Pagi-pagi aku sudah keramas. Kepalaku sudah tidak berat lagi. "Ohh, gapapa tah." aku tersenyum. Siap-siap berangkat kuliah. Sore hari sepulang kuliah, kepalaku berat lagi. Malah aku jadi jatuh dari tangga kosan. Duhh. Keesokan hari badan mulai terasa ga enak. Hingga berhari-hari keadaanku semakin parah. Aku masih memaksakan kuliah. Saat itu aku dibopong oleh Vani, teman sekelas. Beberapa kali aku berhenti jalan untuk istirahat. Hanya mampu berjalan 20 langkah mungkin. Di mata kuliah yang 'extra' kondisiku tidak sedang fit. Ahh. Sore harinya, di kamar kosan. Aku menggigil. Belum pernah sedingin ini. Ada Ria memanggilku, tapi aku ga kuat menjawabnya. Aku sms dia "gw lg kedinginan". Dia turun menuju ke kamarnya. Tidak lama dia naik lagi ke kamarku. "Ami!" "Ami! Kenapa!" Sekuatnya aku buka pintu. "Dingi...